MUSIK BARU YANG BERSUMBER DARI UNSUR ETNIS

Jika kita berbicara tentang musik kontemporer dalam arti kata di barat, maka inilah barangkali salah satu kategori yang paling sesuai dengan pengertian istilah itu di barat.
Kebanyakan kompnis ini memiliki latar belakang dari suatu etnik tertentu, baik pada umumnya maupun secara spesifik dalam bidang seni musik. Namin lain daripada suatu jenis musik dimana pembaharuan masih dilkasanakan didalam berbagai norma-norma tertentu, sekarang ini segala norma seolah-olah dipermasalahkan terlebih dahulu dan belum tentu unsur tradisi manakah yang masih diterapkan dan mana yang tidak.
Musik ini sering disebut eksperimen, memang proses produksi melalu aneka percobaan mirip suatu proses eksperimental.
Dilihat dari sisi lain, unsur eksperimental dalam arti Johny Cage kadang-kadang juga ada, jika misalnya hanya materi besar serta garis-garis besar dapat ditentukan sebelumnya, sedangkan proses perwujudannya terjadi secara spontan. Namun oleh karena persepsi masyarakat tentang istilah "eksperimen" kami cenderung untuk tidak menggunakan istilah tersebut, kecuali dalam arti musikologi yang baku.

A.W. Sutrisna (1959-) berasal dari suatu keluarga dalang didesa wedi (klaten) dan belajar di SMKI serta selanjutnya di ASKI, dimana kemudian dia menjadi staf pengajar. Sutrisna sering bekerja sama dengan Wayan Sadra, B.Subono serta A.L. Suwardi. Dan kerjasama ini merupakan sesuatu yang sangat penting bagi dia, karena dalam proses garapan yang lebih bertolak dari praktek langsung, keakraban dengan musisi sangat penting.
maka tak heran sutrisna berkata:
"if i have do a peace to be played by another group, that would be hard and would take a long time. my piece always take into account the ability of players."

R. Supanggah juga termasuk kalangan komponis yang sepenuhnya berakar pada tradisinya, tetapi tradisi ini tidak dianggap seperti sesuatu yang statis, melainkan hanya menjadi titik tolak untuk suatu perkekmbangan evolusioner sebagai tuntutan utamabagi seorang komponis masa kini. Berangkat sikap kesenimanan itu R. Supanggah selalu sangat terbuka terhadap segala jenis musik lain, sekaligus kelihatan bahwa dia juga tetap mengutamakan proses garapan bersama musisi-musisi lain seperti A.W. Sutrisna.

Karya dari Rahayu. Supanggah adalah "gambuh"(1979),"wayang budha","bedaya kartini","ranggalawe","babad panjang","swarata", dan "srepegan dandanggula".

Wayan sadra (1953) yang lain di denpasar setelah tamat KOKAR(SMKI) dia pergi kejakarta untuk melukis dan mengajar karawitan bali di IKJ. DI samping itu dia melanjutkan menggarap musik baru, antara lain kerjasamanya dengan penari terkemuka Sardono W. Kusumo.S.D Humardani sangat tertarik pada karya Sadra, sehingga dia diundang untuk mengajar di Solo, sekaligus mengambil degree yang lebih tinggi. Sejak tahun 1986, Wayan Sadra mengajar komponis dan karawitan Bali di STSI solo dan dia termasuk komponis-komponis indonesia yang paling sering diperhatikan di luar negeri.

Komentar